Tindakan kolektif didefinisikan sebagai setiap
tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan status, kekuasaan, atau pengaruh dari seluruh kelompok, bukan untuk seorang atau beberapa orang. Locher mendeskripsikan
perbedaan gerakan sosial dari bentuk perilaku kolektif yang lainya seperti:
crowd (kerumunan), riot (kerusuhan) dan rebel (penolakan, pembangkangan).
·
Teori-teori perilaku kolektif
a.
Teori Emergent og Norm
(Kemunculan Norma)
Teori ini muncul karena adanya norma baru dalam sebuah kelompok. Norma ini
termasuk norma yang tidak stabil karena muncul karena sebuah respon terhadap faktor
eksternal.
Norma ini terbentuk melalui pengalaman sebuah kelompok ketika individu
menemukan diri mereka dalam situasi baru atau asing.
b.
Teori Value Added (Nilai
Tambah)
Teori ini lazim digunakan dalam ilmu ekonomi untuk mnyebut nilai akhir
sebuah produk. Teori ini menjelaskan mengenai menjelaskan konsep terbentuknya
prilaku kolektif. Masing masing tahap dalam pembentukan perilaku kolektif
memberikan nilai tambah bagi tahap pembentukan berikutnya.
c.
Teori contagion (Penularan)
Teori ini terjadi karena adanya penyebaran perasaan atau sikap irisional
secara cepat dalam kerumunan.
d.
Teori Difusi Tanggung Jawab (diffusion of responsibility) dan Deindividuasi (deindividuation)
Teori inin adalah kecenderungan seorang dalam kelompok untuk menghindari
sebuah tindakan karena mereka mengasumsikan orang lain melakukannya.
·
Smelser menyebutkan terdapat enam faktor yang menjadi
penyebab perilaku kolektif yakni :
a.
Structural Conducivess (pengkondusifan
struktur sosial)
Sebuah
pemaksaan atas sebuah pola atau struktur baru dari pola atau stuktur yang lama
sebagai alat melaksanakan tujuan tertentu penguasa.
b.
Structural strain(ketegangan pada
struktur sosial) adalah sebuah keadaan di mana beberapa
struktur sosial
yang telah ada baik keberadaannya didasarkan atas agama, pendidikan,
kekayaan,
ataupun keturunan tidak lagi diakomodasikan pada berbagai
kepentingannya.
c.
Growth and spread of a
generalized belief (muncul dan berkembangnya
sebuah
kepercayaan umum) adalah sebuah kondisi di mana ada satu nilai sentral atau
tujuan
utama dalam Masyarakat yang terbentuk ketika nilai-nilai tradisional hancur
beserta
tujuan-tujuannya.
d.
Precipitating factor (pencetus faktor)
adalah suatu kondisi di mana tatanan
sosial telah
ambruk yangdibarengi dengan memudarnya nilai-nilai sosial.
e.
Mobilization of
participants for action (mobilisasi massa untuk melakukan
tindakan)
adalah sebuah pola pengumpulan massa melalui konsolidasi ikatan-ikatan
yang ada
dalam Masyarakat.
f.
The operation of social
control (pelaksanaan kontrol sosial) adalah
memudarnya
kontrol terhadap Masyarakat yang dilakukan oleh pihak penguasa untuk
mengantisipasi terjadinya sebuah gerakkan perlawanan oleh Masyarakat.
·
Ciri gerakan sosial
a.
Terdiri dari sejumlah orang
b.
Mempunyai tujuan tertentu
c.
Bersigat terorganisir
d.
Didukung dana yang cukup
Refrensi :
Modul.
Bab II Kerangka Teori. digilib.uinsby.ac.id.
Rochadi,
AF Sigit. 2020. Perilaku Kolektif dan Gerakan Sosial. Bandung : CV Rasi Terbit.
Hal 46-61
Haris
Andi dkk. Mengenal Gerakan Sosial dalam Perspektif Ilmu Sosial. Journal of
sociologi. Volume 1, issues 1,2019 .
Hendriyanto,
Achmad Reza. Kontruksi Sosial Perubahan
Perilaku Suporter Persebaya. Jurnal Sosial dan Ilmu Politik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar