Minggu, 09 Mei 2021

PERILAKU KOLEKTIF

Tindakan kolektif didefinisikan sebagai setiap tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan status, kekuasaan, atau pengaruh dari seluruh kelompok, bukan untuk seorang atau beberapa orang. Locher mendeskripsikan perbedaan gerakan sosial dari bentuk perilaku kolektif yang lainya seperti: crowd (kerumunan), riot (kerusuhan) dan rebel (penolakan, pembangkangan).

·         Teori-teori perilaku kolektif

a.       Teori Emergent og Norm (Kemunculan Norma)

Teori ini muncul karena adanya norma baru dalam sebuah kelompok. Norma ini termasuk norma yang tidak stabil karena muncul karena sebuah respon terhadap faktor eksternal.

Norma ini terbentuk melalui pengalaman sebuah kelompok ketika individu menemukan diri mereka dalam situasi baru atau asing.

 

b.      Teori Value Added (Nilai Tambah)

Teori ini lazim digunakan dalam ilmu ekonomi untuk mnyebut nilai akhir sebuah produk. Teori ini menjelaskan mengenai menjelaskan konsep terbentuknya prilaku kolektif. Masing masing tahap dalam pembentukan perilaku kolektif memberikan nilai tambah bagi tahap pembentukan berikutnya.

 

c.       Teori contagion (Penularan)

Teori ini terjadi karena adanya penyebaran perasaan atau sikap irisional secara cepat dalam kerumunan.

 

d.      Teori Difusi Tanggung Jawab (diffusion of responsibility) dan Deindividuasi (deindividuation)

Teori inin adalah kecenderungan seorang dalam kelompok untuk menghindari sebuah tindakan karena mereka mengasumsikan orang lain melakukannya.

 

·         Smelser menyebutkan terdapat enam faktor yang menjadi penyebab perilaku kolektif yakni :

a.       Structural Conducivess (pengkondusifan struktur sosial)

Sebuah pemaksaan atas sebuah pola atau struktur baru dari pola atau stuktur yang lama sebagai alat melaksanakan tujuan tertentu penguasa.

 

b.      Structural strain(ketegangan pada struktur sosial) adalah sebuah keadaan di mana beberapa

struktur sosial yang telah ada baik keberadaannya didasarkan atas agama, pendidikan,

kekayaan, ataupun keturunan tidak lagi diakomodasikan pada berbagai

kepentingannya.

 

c.       Growth and spread of a generalized belief (muncul dan berkembangnya

sebuah kepercayaan umum) adalah sebuah kondisi di mana ada satu nilai sentral atau

tujuan utama dalam Masyarakat yang terbentuk ketika nilai-nilai tradisional hancur

beserta tujuan-tujuannya.

 

d.      Precipitating factor (pencetus faktor) adalah suatu kondisi di mana tatanan

sosial telah ambruk yangdibarengi dengan memudarnya nilai-nilai sosial.

 

e.       Mobilization of participants for action (mobilisasi massa untuk melakukan

tindakan) adalah sebuah pola pengumpulan massa melalui konsolidasi ikatan-ikatan

yang ada dalam Masyarakat.

 

f.       The operation of social control (pelaksanaan kontrol sosial) adalah

memudarnya kontrol terhadap Masyarakat yang dilakukan oleh pihak penguasa untuk mengantisipasi terjadinya sebuah gerakkan perlawanan oleh Masyarakat.

 

·         Ciri gerakan sosial

a.       Terdiri dari sejumlah orang

b.      Mempunyai tujuan tertentu

c.       Bersigat terorganisir

d.      Didukung dana yang cukup


 

Refrensi :

Modul. Bab II Kerangka Teori. digilib.uinsby.ac.id.

Rochadi, AF Sigit. 2020. Perilaku Kolektif dan Gerakan Sosial. Bandung : CV Rasi Terbit. Hal 46-61

Haris Andi dkk. Mengenal Gerakan Sosial dalam Perspektif Ilmu Sosial. Journal of sociologi. Volume 1, issues 1,2019 .

Hendriyanto, Achmad Reza.  Kontruksi Sosial Perubahan Perilaku Suporter Persebaya. Jurnal Sosial dan Ilmu Politik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MODUL

KATA PENGANTAR Alhamdulillah penulis panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah swt yang senantiasamemberikan rahmat serta hidayahnya se...